obormenara.com, SAMARINDA — Sejumlah lokasi di Samarinda mulai dikenal sebagai tujuan wisata baru tanpa terlebih dahulu dibangun melalui program pemerintah. Beberapa kawasan perbukitan bahkan tumbuh dari kreativitas warga dan kemudian ramai dikunjungi, terutama saat akhir pekan.
Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang yang bisa dimanfaatkan Pemerintah Kota Samarinda untuk memperluas sumber pendapatan asli daerah (PAD). Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Joha Fajal, mengatakan pemerintah perlu lebih cepat membaca tren wisata yang berkembang di tengah masyarakat sebelum momentumnya berlalu.
Menurutnya, ketika sebuah destinasi mulai ramai dan mendapat perhatian luas, dukungan pemerintah dibutuhkan agar perkembangannya tidak berhenti sebatas tren.
Pembenahan akses maupun infrastruktur dasar dapat dilakukan untuk membuat kawasan tersebut lebih layak dikunjungi sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar.
“Kita punya gunung steling, kemudian bukit RCTI di Samarinda Seberang dan banyak lagi yang saat ini semua wisata itu diciptakan oleh warga. Semestinya, begitu momentumnya viral, pemerintah segera menangkap peluang itu untuk pengembangan infrastrukturnya,” sebut Joha.
Bagi Joha, pengembangan pariwisata juga tidak harus selalu berangkat dari pembangunan destinasi baru. Sejumlah kawasan yang pernah menjadi tujuan wisata masyarakat dapat kembali dihidupkan melalui konsep yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengunjung saat ini.
Ia mencontohkan Hutan Lindung Kebun Raya Samarinda dan Air Terjun Tanah Merah yang dinilainya perlu mendapat perhatian lebih. Revitalisasi terhadap destinasi tersebut dianggap dapat menjadi cara untuk mengoptimalkan kembali aset wisata yang sudah dimiliki Samarinda.
Di sisi lain, potensi wisata berbasis perairan juga masih terbuka. Selama ini Sungai Mahakam telah menjadi bagian penting dari identitas Kota Tepian, namun Joha melihat Sungai Karang Mumus juga dapat dikaji untuk menghadirkan aktivitas wisata air dengan konsep yang sesuai.
“Seperti wisata sungai. Selain Sungai Mahakam, pemerintah mungkin dapat menggali wisata lain untuk di Sungai Karang Mumus, seperti apa nantinya wisata air yang dapat dihadirkan di sana,” ujar Joha, Selasa (25/8/2026).
Menurutnya, peluang pariwisata Samarinda semakin besar apabila berbagai potensi tersebut dikembangkan secara terpadu. Apalagi, kota ini telah memiliki sejumlah tujuan yang ramai dikunjungi masyarakat, termasuk pusat perbelanjaan dan kawasan tepian sungai yang menjadi ruang publik.
Upaya menarik lebih banyak orang ke Samarinda juga dapat dilakukan melalui kegiatan rutin. Joha mengapresiasi agenda mingguan yang digelar di kawasan Stadion Segiri karena kegiatan semacam itu dinilai mampu menciptakan pergerakan masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi di sekitar lokasi.
“Itu salah satu bentuk keinginan pemerintah kota mendapatkan PAD melalui event. Kalau tidak dilakukan, sulit sekali mengundang orang luar. Dengan agenda rutin itu, otomatis arus keluar masuk masyarakat ke Samarinda menjadi tinggi,” kata Joha.
Ia menilai semakin banyak orang yang datang, semakin besar pula peluang usaha yang dapat berkembang. Warga di sekitar destinasi dapat mengambil bagian melalui perdagangan maupun jasa yang berkaitan dengan kebutuhan wisatawan.
Karena itu, pengembangan pariwisata menurut Joha tidak semata-mata mengejar penerimaan daerah. Pemerintah juga perlu memastikan pertumbuhan sektor tersebut memberikan ruang bagi masyarakat lokal untuk ikut memperoleh manfaat ekonomi.
“Nantinya warga sekitar bisa ikut di dalamnya. Dengan adanya wisata baru ini, maka akan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat,” tutupnya. (RET/ADV/DPRDSAMARINDA)
